Kamis, 13 September 2012

GO GREEN!

Pemanasan Global Ancam Keberlangsungan Spesies di Kalimantan


Hutan tropis di Kalimantan

Suhu yang menghangat di Samudera Hindia dan tingginya frekuensi El Nino menyebabkan kondisi kering di hutan Kalimantan. Ini menyebabkan beberapa spesies terancam keberlangsungan hidupnya karena sulit beradaptasi dengan panasnya Bumi.

Menurut hasil penelitian yang diterbitkan Journal of Geophysical Research-Biogeosciences, deforestasi menyebabkan hutan Kalimantan sudah terlalu rusak. Masa depan hutan ini sekarang mulai meredup.

"Bahkan spesies pohon yang bisa beradaptasi dengan cuaca kering masih berisiko punah," demikian pernyataan yang dirilis American Geophysical Union (AGU), Rabu (18/7). "Sebagian kecil spesies yang tidak bisa beradaptasi, berada dalam risiko terancam punah lebih besar."

Hasil ini tidaklah mengejutkan karena pernah terjadi di Hutan Amazon, Amerika Selatan. Ada spesies yang sulit beradaptasi dengan kekeringan dan kebakaran hutan.

Dikatakan Ismayadi Samsoedin dari Badan Litbang Kementerian Kehutanan, memang ada beberapa spesies yang kini masuk endangered di Kalimantan. "Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) yang dulu terkenal di Kalimantan Timur kini jadi berkurang populasinya karena perubahan iklim," katanya saat berbincang dengan National Geographic Indonesia, Kamis (19/7).

Anggrek hitam (Coelogyne Pandurata)

Anggrek ini hanya tumbuh di Pulau Kalimantan dan menjadi maskot Provinsi Kaltim. Meski masih bisa ditemukan di cagar alam Kersik Luway, jumlahnya dalam tahap yang memprihatinkan.

Kayu ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri) juga masuk dalam spesies yang nyaris musnah. Kelangkaan kayu ini bahkan lebih terasa karena mengandung nilai ekonomi tinggi. "Buah-buahan liar seperti rambutan, durian, dan menteng hutan, juga terancam populasinya karena proses pengambilan yang kurang baik dari warga sekitar," tambah Ismayadi.

Sayangnya dengan kondisi semacam ini, Kemenhut sulit menerapkan kebijakan sebagai bentuk pencegahan perusakan lebih lanjut. Sejak otonomi daerah diterapkan sepuluh tahun lalu, Kemenhut hanya bisa memberi saran atau masukan.

Jika pun ada Keputusan Menteri (Kepmen), belum ada yang sifatnya nyata untuk konservasi tumbuhan yang belum dikenal. Malah, saat ini lebih subur pembangunan tambang batu bara, penebangan hutan untuk kelapa sawit, dan perkebunan karet.

"Hingga saat ini belum ada Kepmen yang bisa menjaga hutan Kalimantan dengan baik," ujar Ismayadi.
Sumber berita: National Geographic

Kamis, 06 September 2012

Cara Pembuatan Nastar

Bahan kulit:
250 gr margarin      
250 gr butter
100 gr gula halus
4 btr kuning telur
700 gr tepung terigu
4 sdm susu bubuk full cream

Bahan polesan:
3 btr kuning telur
1 sdt cookie glaze

Cara membuat:
1. Aduk mentega, butter, gula dan telur hingga rata (dengan mixer speed 1, asal tercampur).
2. Masukkan tepung terigudan susu bubuk, aduk perlahan hingga tercampur rata.
3. Ambil sedikit, bentuk bulat, isi dengan selai nanas. Susun di loyang tipis, beri jarak satu dengan yg lain.
4. Oven dengan suhu 140’C selama 30 menit, keluarkan dari oven, poles dengan bahan polesan, oven lagi hingga kuning mengilat.
5. Angkat, biarkan dingin, susun dalam toples, tutup rapat.

Selai Nanas
Bahan:
4 bh nanas palembang, haluskan
200 gr gula pasir
1 sdt garam